Mengenang Surat Cinta Romantis: Surat Cinta Seorang Wanita

Bagaimana surat cinta membawa suasana romantis dalam kehidupan cinta
Surat cinta romantis mungkin hampir lenyap seiring perkembangan zaman. Kecuali generasi 80-an hingga 90-an, generasi melenial hanya mengenal sedikit cerita romantis dari selembar surat cinta. 

Beruntung saya masih merasakan apa namanya surat cinta. Meskipun hanya beberapa saja. Setumpuk surat cinta dari bibi merupakan referensi bagaimana psikis generasi 80-an dalam cinta. Saya kira mereka diangerahi kemampuan untuk merasakan kemesraan lebih dari generasi sekarang. Mungkin!

Di sana masih ada tata krama juga sopan santun. Bahasa yang masih apik dan tidak vulgar mencerminkan bagaimana penghargaan seorang lelaki kepada wanita. Begitu pula sebaliknya. 

Surat cinta mungkin bisa menjadi cara untuk mengulang romantisme di masa lalu. Menuliskan surat cinta romantis kepada pasangan dapat membawa kesan tertentu. Ada pasangan yang telah berumah tangga bertahun-tahun, mereka masih menuliskan surat cinta satu sama lain. Cara tersebut cukup ampuh untuk merangkai kembali hari-hari lalu yang penuh dengan kemesraan. 

Membaca surat-surat cinta masa lalu membuat saya tahu mereka generasi 80 dan 90-an memanggil pasangannya dengan kata sebutan "Kakanda" atau "Adinda." Bukan seperti sekarang biasa menggunakan kata "Jelek, dodol, pesek.." sebagai panggilan kesayangan. 

Di bawah ini saya coba membangun suasana "masa lalu" melalui surat cinta romantis. Susunannya disesuaikan dengan kebiasaan surat-surat tempo dulu. 

Surat Cinta Romantis Seorang Wanita 

Jakarta, 12 Februari 89

Menemui Kakanda
di Bumi Penantian



Salam hangat,
Sebelumnya mohon karena baru sekarang dapat membalas surat Kakanda.

Dinda sangat tersanjung menerima surat yang Kanda kirimkan minggu lalu. Sungguh tiada disangka karena meskipun kita sudah berjumpa beberapa kali, Dinda tidak pernah tahu Kanda memperhatikan diri ini. 

Hatiku tak menentu. Bagaimana mengungkapkan perasaan inipun tak tahu bagaimana caranya. Mungkin ada rasa bahagia. Ada pula rasa bingung. Bahkan malu. Terus terang ini kali pertama seseorang menyatakan perasaannya. Mungkin Dinda akan teringat dengan perasaan ini sepanjang hidup.

Dinda tidak tahu harus bagaimana. Apakah menerima cintamu? Ataukah menolaknya. Kenalpun belum. Ketika bertanya kepada teman-teman mengenai dirimu, semua menjawab bahwa engkau adalah lelaki yang baik. Banyak yang menyukaimu. Bahkan ada yang memintaku untuk mengenalkan  dirinya denganmu. 

Terus terang mengetahui hal tersebut membuatku tersanjung. Apakah ada sesuatu yang istimewa pada diriku sehingga seorang lelaki yang dipuja banyak wanita menaruh hatinya padaku? Selama ini Dinda merasa biasa saja. Bahkan menurut teman-teman terlalu pendiam. Lalu apakah Dinda yang seperti ini layak menerima cintamu?

Menimbang segala sesuatunya Dinda rasa ada baiknya untuk saling mengenal lebih jauh. Saat ini Dinda benar-benar belum siap menjalani sebuah hubungan. Bukan karena apa-apa. Dinda tak ingin ada kecewa di antara kita karena salah menilai. 

Mungkin jalan terbaik untuk saat ini adalah berteman. Dengan begitu kita dapat memahami satu sama lain dengan lebih baik. Bila memang Tuhan telah menakdirkan kita berjodoh, bukankah tak ada apapun yang dapat menghalanginya. 

Dari hati yang paling dalam, Dinda memohon maaf bila mengecewakan. Sekali lagi sungguh Dinda tersanjung atas cintamu, tetapi mohon maaf apabila belum dapat menyambutnya. 




Salam takzim, 



Dinda, 

kalau ada jarum yang patah
jangan taruh di dalam peti
jika ada kata yang salah
jangan disimpan dalam hati

***


Sebenarnya ada banyak tumpukan surat cinta romantis yang ditujukan kepada bibi. Ia menyimpan surat-surat tersebut dengan baik. Ingin rasanya menuliskannya di sini. Mudah-mudahan besok ketika banyak waktu luang, akan dituliskan beberapa di antara surat tersebut.